Pulau Makian, Halmahera Selatan — Sebuah gelombang besar penolakan mengguncang Pulau Makian. Bukan sekadar protes biasa, tetapi pernyataan sikap resmi yang ditandatangani hampir seluruh unsur masyarakat—mulai dari 15 Kepala Desa, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga unsur pemuda. Semuanya bersatu dalam satu suara: menolak dengan tegas pemutasian pegawai PLN, ITO UMAR.
Surat pernyataan yang bertanggal 26 Oktober 2025 di Waikyon itu memuat pesan keras dan jelas: masyarakat Pulau Makian tidak akan tinggal diam jika ITO UMAR, yang telah mengabdi sejak masuknya PLN tahun 2012, dipindahkan secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas.
Nama ini bukan sekadar pegawai PLN. Bagi masyarakat Makian, Ia adalah penjaga listrik mereka, garda depan pelayanan, dan sosok yang memahami denyut nadi masyarakat Pulau Makian.
Selama 13 tahun lebih, ia menjadi Koordinator HAR KIT Pulau Makian—jabatan yang membuatnya bertanggung jawab langsung terhadap pelayanan dan penanganan gangguan listrik di seluruh kecamatan. Dan masyarakat mengakui:
Ia loyal tanpa kenal waktu.
Ia selalu hadir saat listrik padam, bahkan larut malam.
Ia menguasai karakteristik masyarakat di semua desa.
Di tengah pergantian pimpinan PLN yang silih berganti, kepercayaan masyarakat tidak pernah berpindah dari dirinya.
Tidak heran jika kabar pemutasian dirinya memantik reaksi keras.
Dalam surat setebal lebih dari satu halaman itu, tampak jelas betapa solidnya masyarakat Pulau Makian. Penolakan disampaikan oleh:
15 Kepala Desa se-Kecamatan Pulau Makian
Tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat
BPD, BPP, unsur pemuda dari berbagai desa
Bahkan disahkan dan diketahui langsung oleh Camat Pulau Makian, Aderahmat Abd. Rajak, S.Sos.
Penandatanganannya tidak main-main. Nama-nama pejabat desa tercantum lengkap, masing-masing berkomitmen mempertahankan Ito Umar tetap berada di Makian.
Informasi pemutasian Ito Umar dinilai janggal oleh masyarakat. Mereka menilai keputusan tersebut tidak mempertimbangkan faktor pelayanan yang selama ini berjalan baik dan stabil berkat koordinasi Ito Umar.
Dalam surat itu, masyarakat menegaskan:
1. Ito Umar sudah sejak awal bersama PLN, sejak 2012.
2. Ia menguasai wilayah, kondisi lapangan, dan karakter masyarakat.
3. Gangguan listrik selama ini selalu dapat ia selesaikan dengan cepat.
4. Walau pimpinan PLN sering berganti, justru kepadanya masyarakat terus memberikan kepercayaan.
5. Ia terbuka dalam informasi layanan, termasuk soal BBM, kendala teknis, dan kebutuhan lapangan.
Dengan prestasi dan hubungan baik seperti itu, pemutasian mendadak justru menimbulkan pertanyaan:
Mengapa sosok yang paling memahami kondisi lapangan justru ingin dipindahkan?
Siapa yang sebenarnya diuntungkan?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang kini menjadi bisik-bisik tajam di tengah masyarakat.
Dalam pernyataan itu, masyarakat menegaskan bahwa mutasi atas nama Ito Umar tidak hanya merugikan dirinya, tetapi merusak layanan listrik Pulau Makian yang selama ini stabil di bawah koordinasinya.
“Kami menolak dengan tegas pemutasian Sdr. ITO UMAR dari Kecamatan Pulau Makian,” tulis mereka tegas dalam surat.
Penolakan ini bukan sekadar emosi—tetapi desakan agar PLN lebih bijak, lebih transparan, dan tidak mengambil keputusan sepihak yang berdampak langsung pada masyarakat banyak.
Hingga berita ini diturunkan, PLN belum memberikan pernyataan resmi mengenai alasan pemutasian Ito Umar. Namun, tekanan publik di Pulau Makian sudah jelas: mereka siap mempertahankan sosok yang mereka anggap paling memahami dan melayani mereka.
Satu hal pasti:
Pulau Makian sedang bersuara lantang. Dan suaranya tidak bisa diabaikan.
Redaksi: Nasrun
