Halmahera Utara — Tragedi kembali terjadi di wilayah Loloda. Seorang guru sekolah dasar asal Desa Ngajam, berinisial MP (48), meninggal dunia saat dalam perjalanan rujukan medis dari Puskesmas Dorume menuju RSUD Tobelo, Rabu (10/12/2025). Bukan di rumah sakit, bukan pula di fasilitas kesehatan, melainkan di tepian sebuah sungai kecil dekat Desa Gisi, setelah rombongan terhenti berjam-jam akibat akses jalan Trans Loloda–Galela yang rusak parah.
Rujukan medis berangkat dari Puskesmas Dorume sekitar pukul 10.00 WIT menggunakan mobil ambulans. Namun hujan deras mengguyur kawasan tersebut sejak pagi, membuat sungai meluap, jalan berlumpur, dan tanjakan Gunung Ngidu tak dapat dilalui.
Dalam perjalanan, rombongan harus melewati empat sungai tanpa jembatan, semuanya meluap. Ambulans berulang kali tertahan banjir dan medan licin. Beberapa warga turut membantu, namun cuaca dan kondisi jalan tidak berpihak.
Hingga memasuki pukul 17.00 WIT, tepat di sungai keempat menuju Desa Gisi, kondisi MP terus menurun dan akhirnya mengembuskan napas terakhir sebelum sempat tiba di Tobelo. Perjalanan telah berlangsung tujuh jam, sementara RSUD masih berjarak puluhan kilometer.
Menurut warga, ini bukan kejadian pertama. Setidaknya tiga warga sebelumnya juga meninggal dalam perjalanan rujukan medis karena akses Trans Loloda–Galela yang hingga kini tak kunjung diperbaiki. Proyek multiyears 2017–2019 yang dijanjikan selesai, faktanya hanya sampai pada tahap pengerasan sirtu—tanpa aspal, tanpa jembatan permanen.
“Jalan ini satu-satunya akses kami untuk ke rumah sakit. Setiap hujan, kami tidak tahu apakah bisa selamat sampai di Tobelo atau tidak,” tutur salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Meski tenggelam dalam duka, keluarga almarhum MP menyampaikan terima kasih kepada tenaga medis Puskesmas Dorume yang setia mendampingi hingga detik terakhir, dan berusaha semaksimal mungkin dalam kondisi yang sangat terbatas.
“Loloda yang Terlupakan” – Suara Mahasiswa Maluku Utara dari Jakarta
Tragedi ini turut memantik keprihatinan dari seorang mahasiswa asal Loloda, Dryon Taluke, yang kini sedang menempuh studi di Jakarta. Ia melontarkan kritik tajam terkait lambannya perhatian pemerintah daerah terhadap wilayah Loloda.
Menurutnya, Loloda adalah salah satu permata di utara Halmahera: bukit hijau, laut biru, dan desa-desa yang kaya budaya. Namun di balik keindahan itu, terdapat ironi besar—daerah yang tertinggal dari arus pembangunan.
Akses menuju kampung-kampung di Loloda masih mengandalkan jalan tanah, yang berubah menjadi kubangan saat hujan dan berdebu saat kemarau. Kendaraan besar sering tak bisa melintas, sementara ambulans kerap tak mampu menaklukkan medan berat. Akibatnya, warga sering harus bertaruh dengan waktu dan keselamatan hanya untuk menerima pelayanan kesehatan dasar.
“Jarak dan cuaca di Loloda seakan lebih menentukan nasib hidup seseorang daripada fasilitas medis yang seharusnya bisa diakses cepat,” kritiknya.
Dryon menegaskan bahwa masyarakat Loloda tidak menuntut proyek mewah, hanya akses yang layak untuk hidup layak—jalan yang bisa dilalui, jembatan permanen, dan layanan kesehatan yang menjangkau masyarakat sebelum nyawa terlanjur hilang.
“Masyarakat Loloda sudah berkali-kali menyampaikan keluhan. Namun perubahan seperti berjalan sangat lambat. Kami hanya ingin keadilan. Pembangunan seharusnya merangkul semua wilayah, bukan hanya pusat kota,” ujarnya.
Harapan dari Tanah Loloda
Duka yang menimpa keluarga MP menjadi pengingat bahwa sebuah nyawa masih bisa melayang hanya karena jalan yang tidak layak. Ketika daerah lain bergerak maju, Loloda tetap menjadi wilayah yang seakan dibiarkan berjalan sendiri.
Warga berharap pemerintah provinsi maupun kabupaten turun tangan secara serius, bukan sekadar janji proyek. Jalan Trans Loloda–Galela dan jembatan permanen di sungai-sungai kritis harus menjadi prioritas agar tragedi seperti ini tidak terus terulang.
Loloda berduka. Loloda menunggu keadilan.
Jakarta, 11 Desember 2025
#LolodaBerduka 😔
Redaksi: Titus Tude
