Halmahera Selatan —
Pergantian pucuk kepemimpinan di tubuh Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Halmahera Selatan akhirnya pecah ke permukaan.
Yusri Dukomolamo resmi mengambil alih kendali organisasi, setelah Hasbin Umsohi menyatakan mundur di tengah sorotan tajam atas stagnasi kepemimpinan yang berlarut-larut.
Situasi ini bukan sekadar dinamika biasa dalam organisasi kader. Ini adalah akumulasi dari kemandekan gerakan pasca Konferensi Cabang (Konfercab) yang dinilai gagal melahirkan kepemimpinan efektif. Minimnya aktivitas, lemahnya konsolidasi, hingga nyaris vakumnya arah gerakan menjadi catatan kritis yang tak lagi bisa ditutupi.
Dalam forum resmi yang dihadiri pengurus dan anggota, Hasbin Umsohi akhirnya mengambil langkah yang tak terhindarkan: menyatakan mundur dari jabatan Ketua DPC GMNI Halmahera Selatan. Pernyataan tersebut disampaikan secara terbuka—sebuah pengakuan atas realitas organisasi yang tengah mengalami krisis kepemimpinan.
“Dengan penuh kesadaran, saya menyatakan mengundurkan diri sebagai Ketua DPC GMNI Halmahera Selatan,” ujar Hasbin di hadapan forum.
Langkah ini dibaca banyak pihak bukan sekadar keputusan personal, melainkan konsekuensi dari tekanan internal organisasi yang menghendaki perubahan nyata. Dalam organisasi ideologis seperti GMNI, kevakuman bukan hanya soal administrasi—ia adalah ancaman langsung terhadap eksistensi gerakan.
Pengunduran diri Hasbin menjadi titik balik.
Forum kemudian bergerak cepat, mengambil keputusan strategis untuk menghindari kekosongan kepemimpinan yang lebih dalam. Secara kolektif dan melalui mekanisme internal yang sah, Yusri Dukomolamo ditetapkan sebagai Ketua DPC GMNI Halmahera Selatan.
Penetapan ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa organisasi tak lagi memberi ruang bagi kepemimpinan yang pasif. GMNI Halmahera Selatan kini dipaksa memasuki fase konsolidasi darurat demi menyelamatkan arah gerakan.
Namun, tantangan yang dihadapi Yusri tidak ringan.
Ia mewarisi organisasi yang sempat kehilangan ritme, melemah dalam kaderisasi, dan mengalami erosi kepercayaan di internal. Tanpa langkah cepat dan terukur, kondisi ini berpotensi berulang.
Dalam pernyataannya, Yusri menegaskan arah kepemimpinannya akan difokuskan pada konsolidasi total dan penguatan basis kader.
“Kepemimpinan ini adalah tanggung jawab perjuangan. GMNI harus kembali menjadi kekuatan rakyat, bukan sekadar nama. Konsolidasi adalah keharusan, bukan pilihan,” tegasnya.
Pergantian ini menjadi ujian nyata: apakah GMNI Halmahera Selatan mampu bangkit dari stagnasi, atau justru kembali terjebak dalam siklus krisis internal. Publik dan kader kini menunggu, bukan sekadar janji, tetapi pembuktian.
Satu hal yang pasti—tongkat estafet telah berpindah tangan.Dan di bawah kepemimpinan Yusri Dukomolamo, GMNI Halmahera Selatan kini berada di persimpangan: bangkit sebagai kekuatan progresif, atau tenggelam dalam sejarah konflik internalnya sendiri.
Redaksi : Ardhy Kaperwil Malut
