Halmahera Selatan — Kondisi memprihatinkan dialami masyarakat Desa Yomen, Kecamatan Kepulauan Joronga, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara.
Di tengah besarnya anggaran desa yang digelontorkan setiap tahun, warga justru harus berjuang keras mendapatkan air bersih—bahkan dengan cara yang jauh dari kata layak.
Sejumlah warga terlihat menadah air di pinggir jalan, menunggu aliran kecil seperti “tetesan” hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Situasi ini memicu kekecewaan mendalam terhadap pemerintah desa yang dinilai belum mampu menjawab kebutuhan dasar masyarakat.
“Kami ini seakan dibiarkan. Air saja susah, padahal anggaran desa tiap tahun besar. Lalu dipakai untuk apa?” ungkap salah satu warga dengan nada kesal.
Keluhan tersebut bukan tanpa alasan.
Air bersih merupakan kebutuhan vital, namun hingga kini belum terlihat solusi konkret dari pemerintah desa. Warga menilai program pembangunan yang dijalankan belum menyentuh persoalan utama yang mereka hadapi setiap hari.
Lebih jauh, kekecewaan masyarakat mulai mengarah pada krisis kepercayaan terhadap kepemimpinan desa.
Harapan yang dulu dititipkan melalui pemilihan kepala desa dinilai belum membuahkan perubahan signifikan.
“Percuma torang pilih pimpinan kalau tidak hiraukan masyarakat.
Yang kami butuh itu bukan janji, tapi bukti,” tambah warga lainnya.
Kondisi ini menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Desa Yomen.
Di tengah tuntutan transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana desa, masyarakat kini menunggu langkah nyata, bukan sekadar wacana.
Jika persoalan mendasar seperti air bersih saja belum mampu ditangani, maka wajar jika publik mempertanyakan arah pembangunan desa selama ini.
Pemerintah desa dituntut segera bertindak sebelum kekecewaan warga berkembang menjadi potensi konflik sosial yang lebih luas.
Redaksi : Zainudin J. Kobu-Kobu
Kabiro Halsel
