Halmahera Barat, Loloda – Warga Desa Buo, Kecamatan Loloda, Kabupaten Halmahera Barat, kembali mengeluhkan banjir yang kerap terjadi setiap kali hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Kondisi ini telah berlangsung hampir lima tahun terakhir, khususnya di wilayah RT 01 yang berada di samping Kantor Desa Buo, namun hingga kini belum mendapat penanganan serius dari pemerintah desa.
Peristiwa banjir kembali terjadi pada Rabu (7/1/2026). Air meluap dan masuk ke sejumlah rumah warga, bahkan mencapai kamar tidur. Akibatnya, perabotan rumah tangga milik warga ikut terendam dan rusak.
Salah satu warga terdampak berinisial **TT** mengatakan, banjir yang terjadi bukanlah kejadian baru. Setiap hujan deras, air selalu masuk ke rumahnya dan merendam barang-barang di dalam rumah.
“Air masuk sampai ke kamar, semua barang ikut basah. Ini sudah sering terjadi setiap hujan deras,” ujar TT.
Menurutnya, hingga saat ini tidak ada perhatian khusus dari pemerintah desa terkait persoalan tersebut. Ia menilai, penyebab utama banjir adalah saluran air induk yang sudah rusak dan tidak pernah diperbaiki.
“Seharusnya saluran air dibenahi. Saluran induk sudah rusak, tapi pemerintah desa diam seribu bahasa. Akibatnya air meluap dan masuk ke rumah warga,” ungkapnya.
TT juga menyoroti kondisi saluran air yang berada di bawah rumah kepala desa. Ia menyebutkan, ukuran saluran tersebut terlalu kecil sehingga tidak mampu menampung debit air saat hujan deras.
“Saluran air di bawah rumah kades terlalu kecil. Kalau banjir, air meluap ke rumah warga. Rumah kades tetap aman, tapi rumah warga air masuk sampai ke dalam kamar,” katanya.
Ia menambahkan, setiap kali banjir terjadi, warga harus berjibaku membersihkan air di dalam rumah, sementara pihak lain tetap merasa aman.
“Orang lain tidur enak, torang sibuk membersihkan air. Kejadian ini hampir tiap tahun, tapi pemerintah desa tetap diam. Atau mungkin menunggu ada korban dulu baru bertindak,” keluhnya.
Lebih lanjut, TT menilai pemerintah desa terlalu fokus pada program-program yang tidak menjadi prioritas, sementara persoalan yang menyangkut keselamatan warga justru diabaikan.
“Lokasi rawan longsor seharusnya jadi perhatian, tapi dibiarkan. Kalau hujan deras, warga yang tinggal di lokasi rawan longsor selalu was-was. Ini menyangkut nyawa,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah desa segera mengambil langkah konkret, seperti memperbaiki atau membangun saluran air yang layak serta membuat talud atau penahan tanah di wilayah rawan longsor.
“Jangan bikin program yang bukan prioritas. Hampir setiap tahun perencanaan ada, tapi saluran air rusak tidak pernah diperbaiki, lokasi rawan longsor tidak diperhatikan. Apakah harus menunggu ada korban jiwa baru pemerintah desa bertindak?” tutup TT.
Menurutnya, persoalan ini juga menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Namun jika pemerintah desa tidak bergerak, maka harapan kepada pemerintah di atasnya pun semakin kecil.
“Kalau pemerintah desa saja diam, apalagi pemerintah daerah,” pungkasnya.
**Redaksi: Titus**
