Peluang Energi, Tantangan Keadilan Di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan tuntutan pembangunan berkelanjutan, potensi energi panas bumi (geothermal) menjadi salah satu harapan baru bagi banyak daerah di Indonesia. Salah satu wilayah yang memiliki potensi tersebut adalah Halmahera Barat di Maluku Utara. Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah geothermal dapat dikembangkan, tetapi bagaimana pengembangannya dapat benar-benar membawa manfaat bagi masa depan daerah dan masyarakatnya.
Sebagai Ketua DPC BMI Halmahera Barat, Marco Hamisi mengatakan bahwa secara geologis, Halmahera Barat berada di kawasan yang memiliki aktivitas vulkanik yang cukup tinggi. Kondisi ini menjadikan wilayah tersebut memiliki peluang besar untuk pengembangan energi panas bumi.
Ia menjelaskan, dalam konteks transisi energi global, geothermal dipandang sebagai sumber energi bersih yang relatif stabil dibandingkan energi terbarukan lainnya seperti angin atau matahari. Dengan kata lain, geothermal dapat menjadi fondasi penting bagi kemandirian energi daerah.
Jika dikelola dengan baik, pengembangan geothermal dapat memberikan sejumlah manfaat strategis bagi Halmahera Barat. Lanjut Marco.
Ada beberapa point penting yang disampaikan Marco, Pertama, dari sisi ekonomi, proyek geothermal dapat membuka lapangan kerja baru, baik dalam tahap eksplorasi, pembangunan, maupun operasional. Kedua, kehadiran investasi di sektor energi dapat mendorong pertumbuhan sektor lain seperti infrastruktur, transportasi, dan jasa. Ketiga, listrik yang lebih stabil dan berkelanjutan dapat mendukung pengembangan industri lokal serta meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Namun demikian, potensi besar selalu disertai tantangan yang tidak kecil. Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa proyek energi skala besar sering kali memunculkan persoalan sosial dan lingkungan jika tidak dikelola secara transparan dan partisipatif. Dalam konteks Halmahera Barat, isu seperti hak atas tanah, perlindungan lingkungan, serta keberlanjutan sumber daya alam harus menjadi perhatian utama.
Menurut Marco, Masyarakat lokal tidak boleh hanya menjadi penonton dalam proyek yang berlangsung di wilayah mereka sendiri. Sebaliknya, mereka harus dilibatkan sejak tahap perencanaan hingga pengambilan keputusan. Partisipasi masyarakat bukan sekadar formalitas, melainkan syarat penting agar pembangunan benar-benar menghasilkan keadilan sosial.
Selain itu, pemerintah daerah juga memiliki peran strategis dalam memastikan bahwa pengembangan geothermal tidak hanya menguntungkan investor, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Kebijakan yang transparan, pengawasan yang kuat, serta pembagian manfaat yang adil menjadi kunci agar proyek energi ini tidak menimbulkan ketimpangan baru. Ujar Marco.
Dalam perspektif yang lebih luas, geothermal dapat menjadi simbol arah baru pembangunan di Halmahera Barat—yakni pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan keadilan sosial. Masa depan daerah ini tidak semata ditentukan oleh besarnya sumber daya alam yang dimiliki, tetapi oleh bagaimana sumber daya tersebut dikelola secara bijak.
Karena itu, diskusi tentang geothermal sejatinya bukan hanya diskusi tentang energi. Ia adalah diskusi tentang masa depan: masa depan lingkungan, masa depan ekonomi daerah, dan yang paling penting, masa depan masyarakat Halmahera Barat itu sendiri. Tutup Marco.
Redaksi : Titus
