Malam Lailatul Qadar di Indonesia tidak hanya dimaknai sebagai malam penuh kemuliaan, tetapi juga menjadi momen yang membawa keceriaan bagi anak-anak melalui berbagai tradisi lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Di sejumlah wilayah pelosok Halmahera, khususnya pada komunitas yang didominasi etnis Makian, suasana malam Lailatul Qadar terasa semarak sejak selepas waktu Maghrib. Anak-anak tampak antusias memainkan obor yang terbuat dari bambu, berjalan bersama menyusuri lingkungan sekitar dengan penuh kegembiraan.
Tradisi ini telah berlangsung sejak era 1970-an dan masih terus dilestarikan hingga saat ini. Selain obor bambu, di beberapa daerah lain temasuk Desa Selamalofo Kecamatan Oba Selatan Kota Tidore Kepulaun masyarakat juga menyalakan lampu tradisional (poci) di halaman rumah, serta memainkan kembang api, petasan, hingga meriam bambu. Namun, seiring perkembangan zaman, aktivitas yang berpotensi membahayakan tersebut kini mulai diimbau untuk dibatasi demi menjaga keamanan dan kekhusyukan ibadah.
Meski demikian, nilai kebersamaan tetap menjadi inti dari tradisi ini. Anak-anak tidak hanya merasakan kegembiraan, tetapi juga belajar mengenal makna dan keutamaan malam Lailatul Qadar dengan cara yang menyenangkan dan penuh kebersamaan.
Selain itu, terdapat pula tradisi khas yang dikenal di Desa ini dengan sebutan Tonam Loka atau tanam pisang. Tradisi ini melibatkan anak-anak dalam kegiatan simbolis yang sarat makna budaya dan kebersamaan di tengah masyarakat.
Keceriaan yang tercipta pada malam tersebut juga memberikan dampak positif secara emosional, terutama bagi anak-anak yang telah kehilangan orang tua. Momen kebersamaan ini menjadi ruang bagi mereka untuk merasakan kebahagiaan, mengurangi kesedihan, serta mempererat hubungan sosial dengan teman sebaya.
Tradisi malam Lailatul Qadar di Daerah ini pun menjadi bukti bahwa nilai religius dan budaya dapat berjalan beriringan, menghadirkan suasana yang tidak hanya khusyuk, tetapi juga penuh kehangatan dan kebahagiaan bagi generasi muda
Nasrun/Red
